November 5, 2009

H a n y a i n g i n m e n j a l a n i s a m s a r a

.

.

B e r h a r a p b e r t e m u e n t a h k a p a n

.

.

Bismillah

just another confession

November 5, 2009

Selama lebih dari tiga bulan, jiwa ini seperti tak menempati raga.

Hampir saja aku gila karenanya. Kupikir aku memerlukan titik kulminasi dalam hubungan ini. Nyatanya setelah malam kemarin aku bersamamu, aku tersadar tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Karena segala sesuatunya sudah lewat. Pun tentang rasa yang sudah tak ada. Cos now there’s nothing between us!
And everything will never be the same again, rite?!

Kalaupun masih ada rasa yang tersisa, biar diri ini saja yang tahu. Mungkin saja itu hanya rasa rindu menghabiskan waktu bersama. Tapi bukankah Kala tak berhenti untuk menunggu. Lantas mengapa aku harus diam menunggumu? Sedangkan kamu bisa berjalan melangkah seperti biasa. Aku tahu kamu pernah begitu patah. Dan kamu juga berhasil membuatku patah. Padahal yang kuinginkan hanya kamu merasa bahagia. Pun ketika ku berkenalan dengan perempuan itu. Bukan karena aku cemburu, sungguh! Yeah, bolehlah kalau dibilang penasaran. Tapi aku berharap kamu bisa bahagia dengan perempuan itu. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia. Perempuan itu sengaja kumasukkan dalam daftar pertemananku. Tapi aku tak pernah mengajaknya bicara, hingga suatu kesempatan aku ajak ia bicara. Aku sadar itu kusengaja. Tapi bukan mauku juga ketika perempuan itu tiba-tiba meng-add yahoo messengerku. Tak mungkin aku tolak. Kujadikan ia teman, tapi tak kuajak bicara. Aku takut menjadi lancang dan ikut campur urusanmu. Jadi kudiamkan ia. Sampai ketika ia mengajakku bicara tentang musik. Tak kusangka perempuan itu punya telinga yang tak jauh berbeda denganku. Dan kami pun membuat janji. Tentang musik galih, perahu kertas, dan juga serangkaian acara di Bandung yang tak pernah ia tahu. Dari perempuan itu aku tahu kamu pernah menawarkan diri mengajaknya ke bumi sangkuriang. Karena itu aku mengajakmu kemarin malam. Agar kamu tahu jadwal acara itu.  Agar bulan depan kamu bisa mengajaknya [tanpa aku]. Begitu juga ketika aku bersikeras tentang symphonesia. “Kamu harus datang!”
Karena kamu pernah berjanji untuk menemaninya menonton maliq, bukan?
Aku sungguh ingin melihat kamu bersamanya. Karena perempuan itu begitu baik. Dan aku menyukainya. Mungkin aku terlalu naif. Kamu boleh tidak percaya. Atau menganggap aku bodoh. Itu terserah kamu.

.

Kalaupun perempuan itu sudah memiliki seseorang sekarang, kamu bisa istirahat sejenak hingga lukamu sembuh. Tak usah terburu-buru. Suatu saat pasti akan ada waktunya…
.

Hanya saja aku pinta satu hal, jangan memulai pertempuran baru bila tubuhmu masih penuh luka [seperti kemarin saat kita bersama]. Karena bukan hanya kamu saja yang menambah luka, perempuan yang bersamamu pun pasti akan merasa terluka.

.

.

Teruntuk lelaki yang menyebutku ‘teman dekat yang terlibat perasaan’

Tulisan ini untuk kamu

*have a nice life, then! heuheu…^^

Ding!

November 2, 2009

B e r k a c a d a n b e l a j a r m e n c i n t a i d i r i n y a s e n d i r i

.

.

sungguh tak ingin menjadi r o b o t

Apalagi jadi antek-antek teman sendiri

Duh!

Saya mau cerita tentang kamar baru saya. Kamar saya yang sekarang memang tak sebesar kamar saya dulu. Tapi pastinya kamar baru saya lebih cerah dibanding kamar saya yang dulu. Masih membekas ajah gitu di kepala saya betapa suramnya kamar saya yang dulu. Dari segi warna dinding yang biru tua dan hitam, ornamen kayu, serta cocoretan curhat dan penuh nuansa gloomy di dinding kamar saya, tak mungkin saya bilang kalau kamar itu ceria. Ditambah lagi karpet abu-abu saya. Dan letak kamar saya juga yang paling pojok dan jauh dari kamar-kamar lain. Lengkap sudah kamar itu menjadi tempat yang pas untuk saya menyendiri [plus tempat yang pas kalo-kalo saya mau bunuh diri atau jedot2in kepala di tembok]. Hyahahaha

Tapi [seriusan] saya sangat betah di kamar itu. Begitu nyaman dan bisa bikin saya ngga keluar kamar maupun ngga makan seharian. wew! Karena hal ‘ngga makan seharian’ itu lah saya pun memutuskan untuk pindah kamar.

Kamar saya yang sekarang bisa dibilang lebih hidup dibanding kamar saya yang dulu. Warna dindingnya yang krem, dan letak barang2 di kamar yang sungguh jauh beda dengan yang dulu [walaupun barang-barangnya masih sama seperti dulu, masih ada unsur kayu], membuat kamar ini sangat nyaman untuk saya tempati. Ditambah lagi ketiadaan karpet abu-abu di kamar saya. Dan pendatang baru di kamar saya berupa bunga matahari dan dua bintang di dinding saya membuat saya lebih merasa hidup [halah..].

Hahaha.. entah kenapa warna dinding memengaruhi cocoretan jelek saya di kamar. Dinding yang sekarang memaksa saya untuk menggambar hal-hal yang menggembirakan saya dibanding dinding yang dulu. Dan itu sangat menyenangkan untuk saya! Sungguh.. Meskipun saya akui kamar saya memang tak bisa tahan lama-lama rapihnya. Karena ujung-ujungnya pasti berantakan. Sama seperti si empunya kamar. ^^

Ternyata benar, kamar [sebagai ruang pribadi tentunya] mencerminkan seperti apa pemiliknya. Hewhewhew..

. . .

ps: Kemanakah si karpet abu-abu? Tenang, g bakal dibuang. Hanya saja si karpet masih tergeletak di atas jemuran karena si pemiliknya yang malas untuk mengambilnya kok… [hahaayyy...] ^^

suxx

October 29, 2009

.

S e l a l u T a n p a K a b a r

.

.

Tak sadar betapa menyebalkannya pekerjaan menunggu

.

bikin k e s a l sajah!

huh!

Blame no one

October 24, 2009

“Bukanlah sang Maha

Bukan pula Pencipta Kejadian”

.

.

Hari ini saya jalani dengan senyum. Meski masih terasa ada yang hilang. Tapi sudahlah. Tak ingin lagi menunggu penjelasan. Seperti biasa ia hanya bisa berjanji. Dan saya tak ingin lagi menagih. Sebegitu susahkah jarak ini dijembatani dengan silaturahmi?

.

Sudah tak ingin serius

Hanya ingin kembali bermain seperti biasanya

.

Untuk segala yang pernah terjadi:

Rasa tidak memilih

Ia dipilih

.

[Dan saya tak ingin menyalahkan siapapun. Termasuk anda]

d e g r a d a s i

October 18, 2009

:: J u r a n g d e g r a d a s i ::

.

.

yah, semacam mengkhawatirkan lah si hidup milik sayah

wew!

.

.

ups and downs!

what a  l i f e, huh?!

Slapped

October 16, 2009

Terimakasih karena sudah menampar saya malam tadi, teman…

.

Tapi sepertinya saya masih butuh tamparan lagi. Yang lebih keras dari semalam. Bukan lewat tangan. Tapi lewat mata. Agar saya bisa tutup telinga dengan tenang.

.

.

: B u t u h m e r a s a t e r t a m p a r d a n i n g i n m e n a m p a r :

have to remember

October 16, 2009

remember this pat…

: you are not God with His kunfayakun spell :

.

.

Jangan lagi pernah memaksakan sesuatu yang udah ga ada untuk menjadi ada. Hanya akan membuatmu lelah, pat!

Surat untuk Cakrawala

October 14, 2009

H a v e i t o l d u ?

Setiap gelak, tatap, tingkah, rupa, dan aromamu masih menghiasi setiap sudut kamarku. Bahwa kemudian aku memutuskan untuk beranjak. Memindahkan tubuhku dari kamar itu. Bukan karena aku tak sayang kamu. Tapi karena apa yang ada di kepala membuatku ingin meledak dalam tangis [lagi dan lagi].

Entahlah. Pernah terlintas dalam kepala, apa kamu memang benar-benar berniat membuatku tertawa lagi? Aku takut itu hanya sekadar bualan. Janji yang tak sempat kamu realisasikan. Sama seperti yang dulu pernah kamu ucapkan. Untuk kali ini aku sungguh ingin p e r c a y a !

Ah, betapa manis kata itu jika benar-benar menjadi nyata! Yah, setidaknya untuk kali ini, aku harap hal yang kamu lakukan bukan karena merasa bersalah. Tapi karena rasa… Bila merasa bersalah, hentikan saja segera! Untuk saat ini aku tak butuh kata maaf ataupun rasa bersalah. Sudah terlalu banyak kata maaf yang kamu utarakan, sampai-sampai aku tak sanggup lagi menampungnya. Yah, mungkin karena tubuhku yang terlalu ringkih dan penyakitan… [nyambung gitu???]

Pagi ini, jiwa dan isi kepala hanya ingin jujur terhadap apa yang ia rasa…

.

.

Maaf jika saya s a l a h

.

.

[ what a g l o o m y day ?! cheers.. ^^ ]