dalam hujan

January 29, 2008

dalam hujan

aku ingin tetap menunggunya dalam hujan…
menari. hingga bosan.
menangis. dalam gerimis.
tertunduk. ingin dipeluk.
kemana ia? sosok yang kudamba. mengapa hilang begitu saja?
hujan belum berakhir. mengapa ia lalu beralih pada senja?
padahal dalam hujan pun aku tetap menyimpan jejak langkahnya…

lelaki senja

January 29, 2008

menengok ke belakang, sepertinya saya sudah melakukan banyak kesalahan. menengok ke belakang, seharusnya saya sudah mendapatkan banyak pelajaran. nyatanya, saya masih seperti keledai. mengulang kesalahan yang sama. iya. saya mengulang lagi kesalahan yang sama. saya mnyukainya lagi hanya dalam hitungan detik saja.
ada apa dengan saya?
ada apa dengan otak saya?
mengapa logika saya tak mampu berdamai dengan perasaan?
mengapa otak saya tak pernah sinkron dengan nyata?
apa hebatnya dia sehingga mampu membuat saya untuk selalu menunggu senja?
ketika saya hampir melupakannya, mengapa ia harus datang dengan wujudnya yang beda? hanya untuk sekadar mengingatkan saya bahwa ia masih ada, bahwa kesukaan kami sama.
iya. kami menyukai beberapa hal yang sama. saya sangat suka sejarah. walaupun ingatan saya tak hebat2 banget. tapi saya selalu mnyukai kata2 bung karno, JAS MERAH (jangan sekali-sekali melupakan sejarah). iya, saya mnyukai sejarah walau tak sehebat ingatannya. saya mnyukai wayang, jauh lebih suka ketika saya tahu ia mncintainya. dengan segala kepandaiannya bercerita, saya tahu ia bukan lelaki biasa. ia cerdas luar biasa. itu yang membuat saya tertarik padanya. itu yang membuat mata saya tak pernah berhenti melihatnya. meski saya tahu ia tak tertarik pada saya. hanya dalam mimpi saja, saya bisa membuatnya tertarik.
tapi ia sangat populer di kampus saya. bagaimana tidak? dari segi wajah, ia termasuk ganteng. otak? sudah pasti pintar. idealismenya sangat kuat. kecintaannya terhadap buku begitu luar biasa. tidak tahu kenapa saya selalu tertarik dengan orang yang suka baca…
malam tadi, tidak sedetik pun saya berjumpa dengannya. malam tadi, saya hanya mendengar tentang dia dari teman saya. malam tadi, saya membuka blog saya dan menerima blog orang yg berisi sejarah. dan di blog orang itu saya menemukan dia. di dunia maya, tempat dimana saya paling tidak ingin bertemu dengannya. bukannya apa2. saya hanya takut gatal ingin membuka blognya. lagi, lagi, dan lagi.
saya tak tahu akan sampai kapan saya menyukainya. padahal ia sudah saya anggap fana. tak akan bisa saya sentuh di dunia nyata. apalagi dunia maya. saya hanya takut mnjadi freak karenanya…
apa yang harus saya lakukan sekarang? sepertinya saya sudah mendekati gila.

bu…

January 29, 2008

bu, malam ini anakmu tak makan
bukan karena ia tak punya uang
tapi karena ia rindu masakanmu
bu, malam kemarin anakmu ini menangis
sesenggukan seperti anak kecil
bukan karena ia kesakitan
tapi ia merasa kesepian ketika mengingatmu
bu, malam minggu kemarin anakmu ini kebingungan
mencari tangan hangat seperti milikmu
karena sungguh ia rindu pelukanmu
bu, setiap kali anakmu ini meminta ditelepon olehmu
bukan karena ia membutuhkan uang
tapi karena ia rindu mendengar suaramu
dan yang hanya bisa ia lakukan hanyalah berkata
‘bu, aku sayang ibu!’

*bu, maaf bila anakmu yg satu ini selalu rajin mnyusahkanmu*

saya harus apa?

January 26, 2008

Mengapa untuk membuat keputusan saja saya harus merasa sulit seperti ini? Apa karena ini mnyangkut masa depan saya? Jika saya pilih A, besok2 saya tak boleh lagi berpikir tentang B.

Bingung? Saya juga.

Hidup selalu dipenuhi dengan pilihan, itu yang saya tahu. Meski saya tahu bahwa tuhan selalu selangkah di depan saya. Apa yang akan saya pilih, sebenarnya tuhan sudah tahu jawabannya. Tapi hidup tidak semudah soal pilihan ganda yang diberikan guru saya saat ulangan dulu. Tuhan senang menguji. Ia biarkan saya untuk memakai logika. Meskipun ketika saya mencari keberadaan-Nya pun saya kadang terbentur dengan logika.

Ada hal2 yang dulu sempat saya sesalkan. Jika saja saya ambil kesempatan saya ketika diterima di UI, mungkin saya tidak akan terdampar sengsara tapi bahagia di Unpad. Bukan bermaksud mnjelekkan. Tapi dari kelas saja sudah beda. Mungkin hidup saya tidak akan seperti di Unpad. Penuh warna. Kalau di UI, saya tak yakin sanggup hidup di sana. Dengan gaya hidup jurusan saya, pastinya. Glamour, gaul, up-2-date.. dan pastinya kebanyakan dari mereka tajir mampus. Kuliah hanya karena nama. Gimana ngga? Untuk masuk ke sana, saya harus bersaing dengan lebih dari 4 ribu peserta spmb. Saya akhirnya diterima. Dari 50 bangku yg tersedia, nama saya ada di dalamnya. Tapi ada 50 bangku lain yg berasal dari jalur khusus. Mereka bayar berapa? Saya tak tahu. Saya hanya tak mau ambil pusing. Sebenarnya saya diterima di jurusan apa? Sama seperti jurusan saya sekarang. Sama seperti pilihan saya di Unpad. Mungkin orang akan bilang ke saya ‘dasar g tau terimakasih! Tuhan udah ngasih tempat yg bagus, malah ditolak!’

Iya. Dengan segala kebodohan yg beranak pinak di kepala saya, saya menolak kesempatan untuk kuliah di UI. Alasannya sederhana. Segala sesuatunya berbentur dengan ego saya saat itu. Saya ingin kuliah di jurusan arsitektur. Itu saja. Itu mimpi saya. Mimpi terbesar saya. Tapi setelah setahun kemudian saya mencoba spmb lg, ternyata saya tetap diterima di jurusan yg sama. Padahal saya sudah menaruhnya di pilihan ketiga. Mungkin memang sudah nasib dan jalan hidup saya di jurusan ini. Jadinya mau berapa kali pun mencoba saya akan tetap diterima di jurusan ini. Hanya beda kampus saja.

Itu salah satu contoh bahwa hidup kita ini sebenarnya penuh dengan pilihan. Tapi ujungnya tetap sama. Nilai akhirnya akan tetap sama. Meski kita melewati jalur yang berbeda.

Kali ini saya dihadapi dengan dua pilihan. Mempertahankan jilbab saya atau melepasnya. Kalau saja ujungnya akan berakhir sama. Maka saya tak akan ragu untuk melepasnya. Namun ini sudah berkaitan dengan agama. Dengan perintah tuhan. Saya tak mau mnjadi hamba yang kelewat batas, itu saja.

Meski saya masih bertanya2 tentang keberadaan surga. Nyata atau hanya rekaan manusia belaka. Tapi saya masih takut menerima azab tuhan.

Saya sendiri masih mepertanyakan apakah orang baik pasti masuk surga? Serajin apapun umat itu beribadah, kalau ia berbuat zina dan mnyakiti orang lain, apakah tuhan akan tetap memasukkannya ke surga? Bagaimana dengan teman2 saya yg beragama lain? Kalau mereka tak berbuat salah, dan tenggang rasa terhadap sesama, apakah ia tak akan dimasukkan ke surga hanya karena agama pilihan orangtuanya? Tak adil menurut saya. Lantas ketika saya melanggar perintah tuhan, apakah saya juga akan dimasukkan ke neraka? Walaupun saya tak berbuat zina, tak meninggalkan ibadah saya, tidak meminum minuman keras, tidak berpakaian sangat minim hingga mngundang gairah orang yg melihatnya? Apakah konsep surga dan neraka begitu ketatnya?

Apakah tuhan sebegitu keras kepala terhadap aturan yg Ia buat untuk makhluk ciptaanNya?

Mengapa konsep surga dan neraka justru mngacaukan nilai ibadah saya? Orangtua saya sering bilang, ‘shalat nak! Biar dapat pahala dari tuhan. Biar bs masuk surga nanti.’

Mengapa segala sesuatunya harus disangkutpautkan dengan pahala? Dengan surga dan neraka?

Mengapa kita tidak bisa tenang beribadah hanya karena kita mau, kita butuh, bukan karena embel2 pahala dan surga? Sesulit itukah?

Apakah racun pahala dan surga sudah berakar kuat di pikiran nenek moyang kita hingga begitu kita lahir langsung diturunkan k kita? Ini yang boleh nak, ini yg ngga. Ini yg baik nak, ini yg buruk.

Mengapa kita tidak diizinkan untuk memilih sedari kecil. Mengapa kita tidak di izinkan untuk merasakan semuanya. Agar kita benar2 tahu mana yg benar mana yg salah. Tidak hanya sekedar konsep belaka atau tulisan yg kita baca di kitab suci, tanpa kita menelaah lebih jauh lagi.

Duh! Mengapa tulisan saya jadi berkembang luas begini y?

Awalnya saya kan hanya ingin bercerita apakah sebaiknya saya mmpertahankan jilbab saya atau bagaimana. Apakah jilbab saya saat ini, yg sudah saya rasakan sebagai budaya, kebiasaan yg sulit saya lepaskan, harus tetap saya pakai? Atau saya mencari tahu dulu dan mmperbaiki hidup saya serta ibadah saya, yg sudah cukup kacau balau mnurut saya, baru nanti saya pakai lagi.

Lepas pakai. Lepas pakai. Plin plan sekali saya!

Saya hanya merasa belum cukup pantas untuk meneruskan memakai jilbab saya. Ketika agama hanya sekadar formalitas yg dicantumkan di KTP saja. Ketika agama jadi budaya untuk beberapa kalangan. Ketika konsep pahala dan surga masih diturunkan oleh orangtua pada anaknya. Ketika konsep neraka masih disebarkan guru2 mngaji untuk mnakuti anak kecil yg ingin belajar padanya. Ketika memakai jilbab hanya jadi budaya yg mulai mnyebar di sekeliling saya. Ketika kita masih melupakan dan kehilangan esensi dari itu semua, mungkin ada baiknya saya buka jilbab saja…

Mungkin begitu.

pemberitahuan saja

January 22, 2008

saya rindu traveling seorang diri.

saya suka jalan2. bukan, bukan ke mall.. maaf, saya bukan wanita kebanyakan! saya hanya suka jalan2 seorang diri. melarikan diri sejenak dari kegilaan dunia nyata. pergi ke tempat2 yg belum pernah saya kunjungi. bangunan2 lama yg memiliki nilai seni, tempat jajanan tradisional yg bisa mngisi perut ini, taman kota, museum tua, pasar pagi, stasiun kereta, universitas kota tetangga, pantai, gunung (meski letaknya tak seberapa jauh dari kosan saya), lokalisasi wts dan waria di kota saya, penjual durian di jogja, tukang becak di kawasan baluwarti,  dan masinis ramah yg mngira saya wartawan entah dari suratkabar mana (hny krn saya bawa kamera analog, saat itu)…

semua dimulai setahun yg lalu. perjalanan saya seorang diri. tidak tanggung2, saya pergi ke dua tempat sekaligus. ke solo dan jogja. awalnya siy saya merasa sedikit takut. tapi dengan tekad yg kuat dan bismillah yg mngiringi kepergian saya, segala rasa takut itu hilang dan berganti menjadi gairah, antusiasme yg meledak2. (mungkin kata itu terlalu sedikit berlebihan. ya, memang berlebihan..)

sedari kecil saya memang suka tiba2 pergi sendiri. jalan2 mngelilingi kota saya sendiri (pastinya). bedanya saat itu, saya masih dimonitor oleh orangtua saya. saat smp, saya tidak boleh pulang sekolah lebih dari pkl 4. klo tidak ada bimbel, saya harus sudah ada di rumah paling lambat pkl 4 sore. saat sma, saya diberi kelonggaran hingga pkl 8 mlm. maklumlah, saya anak perempuan satu2nya di keluarga saya…

saat kuliah, berhubung jauh dari rumah, hasrat saya untuk traveling semakin mnjadi2. simple saja, ketika saya merasa di sekeliling saya sudah terlalu ramai, maka saya akan mnyelinap untuk mnghilang pergi entah kemana. seinginnya diri saya saja. kalau yg ada di dpn saya itu bus bandung – cirebon, y sudah naik saja. terserah nanti mau turun di sumedang atau cirebon. tergantung hati saya saja.

saya memang tidak terlalu suka keramaian. berada terlalu lama di tengah keramaian siang2 bisa membuat saya pusing dan sedikit mual2. aneh y? berarti saya tidak cocok untuk datang ke tempat clubbing, atau pasar tradisional yg ramainya memang naudzubillah. hahaha… tp saya pernah kok k pasar pagi, ato berada di tengah keramaian mengantre tiket kereta ekonomi. tapi itu kan tak seberapa lama. hanya sekitar 15 mnt sampai 1/2 jam saja. yaahh… klo segitu siy saya masih tahan lah! demi. demi tercapainya tujuan saya!

kalau saya ceritakan perjalanan saya ke jogja dan solo setahun yg lalu, atau ke batu karas, atau gunung manglayang, atau sumedang, mungkin akan sangat panjang ceritanya.

jadi sebenarnya saya hanya ingin memberitahu bahwa tgl 25 jan nanti (klo jd) saya akan pergi ke pangalengan. dan tgl 30 jan nanti saya akan pergi ke karimun jawa. sayangnya, nanti saya tidak akan pergi seorang diri.. tp akan pergi dengan beberapa kawan saya (yg entah mngapa cowo smua.. ad ap dgn saya?)

kan sudah saya bilang dari awal…

saya rindu traveling seorang diri.

saya hari ini

January 22, 2008

“menanti senja. mencuri malam. menyapa pagi. menipu siang. tapi tetap tak bisa melupakan hujan.”

entah mengapa judul di blog site saya bs sepanjang itu. taglinenya pun lebih mnggambarkan ttg saya… heuhehe… kata2 itu saya pakai mungkin karena kesukaan saya terhadap alam.

saya mnyukai angin, karena dulu ia sering mnyampaikan pesan kpd saya. saya mnyukai malam, karena ia begitu memesona. seperti ad kekuatan magis yg mampu mngikat saya dgn malam. saya mnyukai pagi, karena ia selalu mngingatkan saya untuk bersyukur bahwa tuhan masih mngirimkan kpd saya hari yg baru, hari yg harus saya tempuh… terimakasih tuhan!

saya memang ingin menipu siang, karena saya tahu saat itu tuhan sedang mnguji saya dgn sengatan matahari ciptaanNya. saya akan selalu menanti senja. karena ia, yg saya puja, begitu mncintai senja. sejujurnya ad pertanyaan yg sangat mngusik saya dan ingin sekali saya lontarkan kpdnya… “dgn siapa kamu mnikmati senja hari ini?”

yah, pastinya bukan dgn saya… karena itulah saya tak bisa melupakan hujan. ada suatu waktu di mana hujan mmberikan kabar buruk pd saya, dan mmbuat saya mnangis sejadi2nya… tapi ad suatu waktu di mana hujan mendudukkan ia di sebelah saya. membuat saya mnikmati setiap detik bersamanya, meskipun itu tak lama. karena kemudian ia berdiri dan mninggalkan saya….

dan kini…

… malam ini…

      saya ingin menari lagi dalam hujan

        ( meskipun hanya ditemani bayangnya)

ya.

itu sudah cukup buat saya.

Yup! that’s rite. selama ini saya berpikir bahwa semuanya baik2 saja. dan akan tetap seperti itu hingga ke depannya. tapi ternyata saya salah. saya tidak sedang baik2 saja. selama ini saya selalu mengcover diri saya sedemikian rupa sehingga saya terlihat tidak mempunyai masalah sama sekali. padahal segala sesuatunya begitu berbeda. saya tidak sedang jatuh cinta. itu hanya perkara biasa buat saya. tak akan membuat saya menangis darah seperti sekarang. saya sudah keluar jalur terlalu jauh. dan tidak ada seorang pun yang menuntun saya untuk kembali ke jalur manusia normal. mungkin saya memang tidak normal…

siapapun.. tolong bangunkan saya dari mimpi panjang!!! saya hanya ingin kembali ke nyata. karena saya merasa sendiri di sini. saya ingin berada di antara mereka. saya ingin diterima mereka.

mrasa-sndiri.jpg

ya.. saya merasa teralienasi. dan ini memang salah saya…