Teruntuk Lelaki Senja
February 18, 2008
Lelaki senja kali ini tergoda seorang dewi dari kahyangan
Dewi yang dipuja pagi dan siang hingga hilang ingatan
Lelaki senja, kapan kiranya beranjak menuju kedewasaan
Bila yang ia lihat hanya rupa yang menawan
Lelaki senja… mengapa kamu tak bertapa?
kamu tahu, nafsumu setinggi angkasa
Aku tahu dewi itu begitu menggoda
Dia akan menjadi pendamping yang bisa kamu bawa kemana-mana
Seorang yang bisa kamu banggakan, tentu saja!
Tapi tidakkah seharusnya kamu berpuasa?
Akh, sudahlah!
Lelaki senja… semoga berbahagia
Aku harap malam datang dengan segera
Membumihanguskan senja menjadi gulita
Karena dalam gulita, Lelaki senja takkan pernah ada…
ceracau mungil
February 16, 2008
angin. dingin. bibir. lembut. kecup. hangat. di mana?
hanya ingin kening. bahkan untuk itu pun tak saya dapatkan. lalu harus apa?
diam. diam. diam. menunggu datang seseorang?
tak mungkin ada.
hampir 22. sudah cukup tua untuk wanita. akan apa?
menyulam masa depan. memperbaiki hidup yang sudah kacau. apa masih bisa?
asa terus melambung. kaki terasa terikat di masa lalu. kapan bisa melangkah?
tergolek lemah. menunggu. hidup hancur perlahan-lahan. mengapa tak ada yang bantu?
kemana mereka? hilang begitu saja.
hanya menjilat jika butuh.
dan saya masih diam bagai bangkai yang bau.
karena saya lupa kapan hidup saya mati kala itu.
tak ada yang menghidupkan. hanya sebatas kasihan. buat apa?
cuuiiihhh…
saya tak butuh itu.
yang saya butuh perhatian. untuk saya melangkah ke depan.
mengapa begitu sulit saya dapatkan?
when i miss something
February 16, 2008
nyanyian laut. ya, saya sempat mndengarnya walau hanya beberapa nada.
ketika itu saya sedang berada di sebuah rumah apung di tengah laut. letaknya hanya beberapa jam dari semarang. rumah apung itu sangat indah. semuanya terbuat dari kayu. pemandangan di belakangnya juga sangat indah. sunset yang begitu memikat bagi siapapun yg melihatnya.
sore itu saya sedang duduk sendiri. sebentar lagi tiba waktu saya untuk pulang meninggalkan rumah apung yg begitu memikat ini.
tiba-tiba saja saya ingin menikmati pemandangan yg terhampar di depan saya sendirian. melahap semua yg saya lihat seakan-akan hanya untuk saya sendiri. pemandangan hamparan laut luas yang hanya menyisakan garis panjang di ujungnya. matahari beranjak turun. namun belum berwarna kuning telur. masih 2 jam untuk itu. laut kala itu berisi gradasi warna biru. tak jauh dari hadapan saya, ada nelayan yg sedang berdiri memancing. maklum, laut yang ada di depan saya adalah laut dangkal. meskipun saya berada di tengah laut. di antara dua pulau tepatnya.
saya terdiam. menutup mata saya perlahan. mencium bau laut. merasakan desiran angin laut. lama saya seperti itu…
tiba-tiba saya mendengar beberapa untai nada memasuki telinga saya. hanya beberapa nada. tapi indah dan begitu polos, menurut saya. saya bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. yang jelas ya seperti itu. jalinan nada yang hanya sebentar tapi terus terngiang di telinga saya.
saya bukan seorang yang ahli di bidang musik. saya buta nada, jujur saja.
jadi jika anda ingin saya menjelaskan atau mendeskripsikan nada tersebut, saya tidak bisa.
nada itu buat saya adalah nyanyian laut yang saya dengar untuk kali pertama. dan saya ingin mendengarnya lagi dan lagi.
sekarang waktu saya untuk kembali ke rumah. ke tempat yang penuh dengan tuntutan. ke tempat yang ramai, sibuk, dan saling tak mempedulikan. ke tempat yang penuh dengan asap kendaraan.
bukan tempat saya bisa menyepi, bersantai sambil ditemani teh hangat kala malam menjelang, menghirup aroma laut, mencicipi matahari terbenam dari belakang wc, memandang bintang, menjelajahi isi laut, mendengarkan nyanyian laut…
yah.. rumah saya bukan tempat seperti itu…
jangan salahkan saya jika saya rindu…
ceracauan tak jelas
February 16, 2008
mati. ingin mati. bunuh diri kalau begitu? tak dibolehkan mati dengan cara itu.
melangkahi tuhan, kata orang.
hidup tinggal sepenggal petang. malam adalah akhir dari segala cerita. kalau begitu jadikan senja tempat singgah.
tapi senja tak kunjung datang. tempat singgah saya hilang. tak mungkin saya langsung melompat ke malam. perputaran waktu akan kacau jadinya.
saya harus apa? menunggu senja dalam keadaan koma?
koma? mengapa tak memakai titik saja? biar habis perkara. bukankah titik selalu menjadi akhir dari segala?
am i insane?
February 16, 2008
sakit.
orang bilang saya mencari sensasi. buat saya itu kepuasan diri.
terserah orang mau bilang apa. saya gila. tak tahu diri. egosentris. kepala batu. whatever…
saya harusnya ga peduli sm omongan mereka. but i do care what they’ve talked about me!
saya jd bingung sendiri. saya ingin merealisasikan diri saya sebagai individu yg bebas. selama ini saya merasa terkungkung oleh norma dan agama yg ada.
dan saya memulainya dengan gebrakan yg mungkin cukup gila. saya melepas identitas yg melekat pada diri saya selama 6 atau 7 tahun belakangan ini. bukan waktu yg sebentar. setidaknya buat saya yg moodnya suka berubah cepat.
individu yg bebas? saya pernah mmbicarakan ini dengan seorang kawan saya. pada akhirnya kami mnyimpulkan bahwa individu yg benar2 bebas adalah orang gila. karena mereka tak harus terikat dengan norma, agama, dan segala identitas yg ada. tapi orang gila itu sebuah identitas jg bukan siy?
ketika saya memutuskan untuk menjadi individu yg bebas, saya harusnya rela dipanggil orang gila. i’m insane. tapi sebagian orang mungkin berpikir bahwa saya tak siap terikat dengan norma yg ada. hey! i’m a bitch inside… not an angel like what u’ve thought!
akh, ini hanya sebuah pembelaan buat diri saya sendiri kalau saya punya sisi iblis yg g diketahui orang. selama ini orang berpikir saya itu kaya malaikat. orang baik. dengan atribut yg saya pakai kala itu, siapa siy yg berpikir tidak?
sebenarnya saya hanya capek terus2an memakai topeng malaikat. padahal saya tidak sebaik itu! saya juga capek ketika orang menilai saya dengan apa yang saya pakai…
mengapa saya tak bisa melakukan apa yg saya mau tanpa di judge terlebih dahulu?