Ia menengadahkan kepalanya. Langit tampak mendung sore itu.
‘lagi-lagi hujan…’ begitu pikirnya.
tidak. ia bukan pembenci hujan. ia justru mencintai hujan. rintik-rintiknya. wangi tanah basah setelah tersiram air hujan. ia mencintai segala yang ada di hujan.
tapi kali ini ternyata mendung tidak hanya menghiasi langit, mendung juga mengisi pelupuk matanya yang kian memerah.

“kamu kenapa?” tanya Angin yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi.

‘ngga..’

“kamu sakit? apa karena kemarin malam ia tak datang dalam mimpimu?” Angin bertanya lagi. kali ini intonasinya lebih terasa mengkhawatirkan. ia khawatir Nonanya yang satu ini akan bersedih lagi.

‘ngga. angin pergilah dulu. aku ingin mencari tanah. hanya kepadanya aku bisa bercerita kali ini.’

“kenapa harus tanah? kamu sudah tidak percaya aku? bukankah aku yang selalu menemanimu?”

‘iya. tapi kamu Angin. sifatmu tak pernah tetap. jika aku bercerita padamu, kamu akan menghembuskannya lagi ke angin yang lain.’

“tapi aku setia. aku tak akan menceritakannya kepada yang lain.”

‘tetap saja kamu angin…’ perlahan Nona si Angin ini pun pergi meninggalkannya. ia pergi ke ruang tanpa udara. di mana angin tak bisa menembusnya. namun ia tak menemukan kehidupan di sana. segalanya terasa kosong. menghimpit relung hatinya. menekan sedemikian rupa hingga ia tak sanggup bernapas untuk pertama kalinya. ia menangis. ia teriak sekuat tenaga. namun tak ada suara yang keluar. segalanya diam. hening. sesak.
‘aku sebentar lagi akan mati…’ begitu pikirnya.
ia meraba-raba dinding yang ada di sekelilingnya. ia mencari jalan keluar. jalan keluar dari ruang tanpa udara itu. ia harus keluar. sekarang!
belum waktunya untuk si Nona mati. masih ada kecambah kehidupan yang harus tetap ia siram hingga besar…
***
malam itu hujan masih membasahi bumi. menitikkan airnya ke tanah dan dedaunan hijau tempat si Nona tinggal. ia sudah keluar dari ruang hampa udara. bertemu lagi dengan Angin dan kembali bertengkar dengannya. sepasang sahabat itu akhirnya berjauhan.
Angin tak lagi menemani setiap langkah si Nona. dan Nona pun tak peduli. ia pergi mencari tanah untuk bercerita.
tanah pun ia temukan sedang bermain dengan hujan di pekarangan rumah.

“hai Nona.. kudengar dari hujan kamu bertengkar dengan Angin..” tanah memeluk hujan seperti biasa. ia tersenyum ramah. melihat Nona si Angin yang sedang murung. ia tak tahan untuk memeluknya. tapi ia takut, pasti Nona nanti kotor terkena tubuhnya. jadi tanah pun tetap diam.

‘betul tanah… tadi aku bertengkar dengan Angin. ia selalu mau tahu. tentang aku, mimpi2ku… aku kesal. terserah aku jika ia tak datang dalam mimpiku kemarin. aku sudah tak peduli padanya!’ cerita si Nona tentang lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya selama setahun belakangan.

“Angin bukannya ingin menjadi orang yang sok tahu… ia hanya sayang Nona. ia tak ingin Nona sedih.” jelas tanah.

‘tanah, aku ingin bercerita padamu. tapi aku mohon jangan bilang pada Angin. sebenarnya sudah lebih dari seminggu aku tak memimpikan lelaki itu… aku bahkan tak tahu apa yang kumimpikan semalam…’

“…”

‘tapi yang kusedihkan bukan itu. lelaki dalam mimpiku sudah cukup menemaniku selama setahun ini. ia sudah mampu mengusir sedihku akan mentari. tapi yang kusedihkan adalah ketika Angin berkata bahwa ia menyayangiku…’

“kenapa harus sedih? bukankah kamu harusnya bahagia, mengetahui bahwa Angin menyayangimu?”

’sebatas menyayangi, aku masih bisa terima. namun ketika itu menjadi ambisi… haahh.. sudahlah!’

“???”

‘aku hanya ingin bersahabat. dengan kamu, ia, atau mereka. sebatas itu saja. tak pernah berpikir bahwa akan ada salah seorang yang terluka…’