October 15, 2008

Suddenly i realized that i really love photograph…

hmmpphhh…

Sebuah memoar untuk senja

October 15, 2008

Hujan sore ini membuatku membiru. Rintiknya mengingatkanku akan sebuah kenangan tentangnya setahun yang lalu. Di sini. Masih di tempat yang sama. Di meja bundar, tempatku biasa duduk bersantai usai kuliah. Setahun lalu, hujan rintik, persis seperti hari ini. Aku duduk di sana dan ada kamu di sana. Iya, kamu yang biasa kupanggil senja. Kamu yang saat itu duduk di sampingku.

Tak lama hujan menderas…
Kamu mencari tempat lain untuk berteduh. Sedangkan aku? Malah mengajak seorang kawan untuk menemaniku bermain hujan. Aku suka hujan. Dan kamu tak tahu itu.

[Kenangan kamu duduk di sampingku. Kenangan yang hanya sebentar itu masih kuingat hingga kini.]

Hari ini…
Seperti kubilang tadi, hujan turun menciumi tanah hingga basah. Dan menyeruaklah bau tanah yang kusuka. Hari ini, aku duduk di meja bundar yang sama. Dikelilingi oleh teman-temanmu yang semakin tua. Dan ya, tak ada kamu di sana. Tentu saja, karena kamu telah pergi jauh meninggalkan tanah sunda. Karena hampir setahun pula sudah kututup cerita tentangmu, Senja…
Tapi mengapa ketika hujan mereda, jejakmu masih terlihat jelas menapak di kepala?
Sebuah tanya menggelitik sel-sel otak di kepala, “Apa mungkin aku masih menyukaimu, Senja?”

Kuharap tidak.
Karena ceritamu telah kuhentikan di perbatasan cakrawala, saat senja berganti gulita. Kumatikan dirimu. Kusapu jejak-jejak langkahmu. Semoga tidak ada remah-remah senja yang tersisa di pelataran rumahku…

[ya, sudahlah!]

Senin, 13 Oktober 2008, kantin yang rame dan entah mengapa saya merasa sendiri…