kelinci
Berawal dari bercanda dan saya terbawa…
Saya jatuh, dan tenggelam. saya tak tahu seberapa dalam…
Tapi saya menikmatinya!

dan saya rasa…
Seekor kelinci bulat harus bertanggungjawab thd apa yg saya rasa saat ini!

[saya hanya berharap bahwa saya tidak merasakan ini sendiri. Sepihak saja maksudnya...]

hah? mndadak gila!

January 30, 2009

i think i’m in love with him…

Nope!

Yes!

i mean, i’m in love with him who asked me out yesterday when its rain, someone that knew if i liked rain, books, and traveling.. someone who cares when i was sick, someone who has taken over my thoughts lately.

it’s nice 2 know u…
hmmm… lovely! q(n_n)p

Ines dan si patah hati

January 30, 2009

“No one ever said life was easy. There will always be someone who will break your heart. You may be so depressed, u just sit in the corner and cry for hours. But u just have to remember. Life goes on, babe…”

Yup! that’s true. tmn saya bernama Inggit Prameswari, atau Ines -panggilan saya untuknya- mengirim pesan singkat ini ke handphone saya sore tadi. Ia memang teman seperjuangan saya. Teman curhat saya. Rupanya jarak tak pernah menjadi kendala untuk kami bercerita. Ines kuliah di solo, sedangkan saya di Jatinangor. cukup jauh saya rasa…
Bersama Ines, saya sering bertukar cerita, puisi, keluh kesah, kegembiraan, dan ide tentu saja. Kala saya sendiri, merasa galau dan merasa tak punya teman, saya akan mengsmsnya dan memintanya untuk menemani saya saat itu. Ia selalu menemani saya kala saya dilanda kesepian. Walau kadang ia ketiduran ketika sedang meladeni sms saya yg datangnya kemalaman. Hehehe… saya rindu teman saya itu…
Ia mungkin sedang merasakan patah hati. ia sudah jatuh berkali-kali. Merasakan sakit dan luka disekujur tubuhnya. merasa kehilangan asa. Namun saya tahu ia perempuan yang tegar. Ia pasti bisa melewatinya. Seperti ia melewati episode2 patah hatinya yang lalu.

Saya yakin suatu saat ia akan merasakan bahagia itu. Tidak. bukan hanya ia. tapi juga saya. ya, saya.
Kita akan merasakan bahagia itu bersama. dan kita akan menertawakan semua derita yg telah kita lewati.
One thing for sure, we will end up with happiness, babe… trust me!

belajar jujur

January 20, 2009

Believe me, it’s not my decision. nor yours…

saya g tau harus gimana. Pergerakan otak saya memang melambat akhir-akhir ini. Jadi jgn salahkan saya kalau saya tidak mengerti…

Sebenarnya apa sih arti rasa? Sesuatu yg bisa membuat jantung dag-dig-dug-der? Yg membuat segalanya berputar melambat. Seperti adegan slowmotion dalam film ketika sang tokoh utama bertemu dengan kekasihnya, yg kemudian ditambah dengan perputaran kamera 360 derajat hanya fokus pada mereka berdua?

saya masih tidak mengerti. Sumpah!

Sebenarnya apa yang saya mau?

Saya mau dia suka sama saya dan mulai mendekati saya….

hahaha… sebuah keinginan yg anehkah? tidak saya rasa. saya ini pemalu! itu saja.

kolam baru bernama Langit

January 10, 2009

Byyyuuuuurrrr.

Mengapa saya harus menceburkan diri saya ke dalam kolam baru ini?
Ataukah saya tercebur karena terdorong arus permainan mereka?
Saya bukan anak-anak lagi. Saya tidak ingin tercebur ke dalam kolam baru ini. Meski warnanya jernih, saya tidak tahu sedalam apa kolam ini. Saya hanya tak ingin tenggelam kemudian mati.

Baiklah. Ada baiknya saya bercerita dulu kepada kalian tentang kolam baru ini. Kolam baru ini saya temukan beberapa saat lalu ketika saya sedang bermain ke pekarangan rumah teman saya. Dia, begitu saya menyebut teman saya, berkata pada saya, “Pat, ni ada kolam yg udah gua punya lama. Kolam ini jernih, warnanya biru koral, indah, terlihat misterius, dan banyak ikan di dalemnya. Kolam ini g bakal bikin lo tenggelam, walau gua g tau kedalamannya berapa. Tenang aja, lo bisa percaya sama gua.” Terang Dia, begitu saya menyebut teman saya, meyakinkan saya.
“Seberapa besar kolam ini?” tanya saya pada Dia, begitu saya menyebut teman saya.
“Masih kecil kok pat. tapi lama-lama dia bisa membesar. semakin lo beri perhatian dia, semakin lo sayang dia, gua yakin dia akan membesar seiring dengan banyaknya penghuni kolam ini nanti.”
“Membesar? memangnya kolam ini makhluk hidup jenis baru ya?” saya menunjukkan mimik penuh tanda tanya. Saya heran jika ternyata nanti kolam ini bisa membesar.
“heuhehe.. nanti lo juga tau sendiri kok! Klo d pekarangan rumah gua emang cuma bisa segede ini. ga bakal bisa lebih kayanya.” Dia, begitu saya menyebut teman saya, tertawa dan manggut-manggut seperti menegaskan pernyataan yang Dia buat sendiri.

Saya pun membawa kolam tersebut ke pekarangan rumah saya. Tentu saja saya tak bisa membawanya sendiri. Saya meminta bantuan beberapa teman saya untuk membawa kolam tersebut.
Sudah sebulan kolam itu berada di rumah saya. Karena warnanya yang biru seperti langit. Maka saya pun memberikan nama kolam ini Langit. Jangan pernah anda berpikir bahwa saya selalu memberi makan pada ikan yang ada di kolam ini. Tidak. Saya bukan tipe pemerhati. Tapi sesekali memang saya suka melongok Langit, dan diam di sampingnya. Menghabiskan waktu dengan hanya melihatnya memang cukup menjadi obat yang menenangkan untuk saya.
Teman-teman saya sering main ke pekarangan rumah saya untuk melihat langit. Saya sih senang-senang saja mereka datang. karena mereka suka memberi makan pada ikan-ikan yang dimiliki Langit. Sampai suatu saat teman saya, yang bernama Awan, berkata pada saya, “Langit kayanya semakin membesar y? lama-lama dia akan memenuhi pekarangan rumah lo ni pat! Lebih baik lo pindahin dia ke dalam rumah lo deh…”
“Masa sih?”
Akhirnya saya perhatikan juga Langit. ya, ia memang membesar. pekarangan rumah saya hampir tidak muat menampungnya. Tapi jika harus saya pindahkan ke dalam rumah? Saya jelas belum percaya…

Saya harus bagaimana? Langit semakin meluas, warnanya kini biru gelap. saya jelas tak tahu sedalam apa. Teman-teman saya yang datang untuk melihat langit semakin memojokkan saya karena tidak memindahkan langit juga ke dalam rumah.
Saya terpojok. Saya tahu itu.
Dan sekarang saya berada di pinggir kolam. menatap langit.
Saya tak tahu apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Yang jelas saya tak ingin teman saya yang memojokkan saya itu, mendorong saya ke dalam Langit.
Saya tak ingin tercebur, tenggelam, dan kemudian harus mati konyol karenanya…

[Yasudahlah, untuk sementara saya diamkan saja. Saya hanya akan menunggu apa yang akan Langit beri pada saya... Selanjutnya, jalani saja!]

Senja

January 10, 2009

Ternyata saya tak bisa membenci senja. Saya hanya benci dengan lelaki itu yang begitu mencintai senja. Tapi jika dibilang benci pun sebenarnya tidak terlalu. Benci? Hanya terlalu sakit hati, mungkin…
Saya pernah melihat senja tersempurna semasa hidup saya yg sudah 22 tahun ini. Senja itu saya temukan dalam perjalanan saya menuju Loji, sebuah pantai di daerah Pelabuhan Ratu. Senja kali itu begitu bulat sempurna. membuat saya ingin menggigitnya, mencurinya, dan menyimpannya untuk kepuasan saya sendiri. Senja dengan bulat sempurna tanpa kawanan awan menemaninya. Senja itu begitu sempurna dan utuh. Tapi entah mengapa saya merasa senja itu begitu sendiri. Mmbuat saya tergugu dalam lamunan sepi. Meski saat itu saya sedang terduduk dalam sebuah angkot yang akan mengantarkan saya menuju Loji.
Kemarin, dalam perjalanan saya dari Surabaya menuju Yogya, sekali lagi saya dihadapkan dengan kehadiran sebuah senja.Tidak seperti hari-hari sebelumnya, dimana saya merasa bahwa kehadiran senja adalah repetisi yg sama sekali tidak berbeda dibanding sore kemarin, minggu lalu, atau bahkan puluhan tahun sebelum saya lahir.
Tidak seperti senja yang saya lihat di Loji. Senja ini tidak sempurna. Tidak utuh, tidak bulat, dan brgulir begitu cepat. Namun senja kali ini adalah senja terindah yang saya lihat sepanjang hidup saya. Mengapa saya sebut indah?
Senja kali ini saya lihat dari jendela kereta ekonomi Logawa jurusan Surabaya- Purwokerto. Senja ini begitu cantik dan begitu cepat bergulir untuk kemudian sembunyi dibalik kokohnya gunung yg tak saya tahu namanya. Langit menjingga. Senja kali ini tidak terlihat angkuh dan sendiri. Bahkan awan pun turut serta mengikutinya hingga hilang dibalik badan sang gunung. Arakan awan putih yang berserak di langit biru yang semakin menggelap seperti tahu bahwa senja kali ini tidak boleh sendiri. Dan awan pun turut menemani. Sepertinya sore itu awan jatuh cinta pada senja. Senja seperti memiliki daya magnetis yang menarik sekelilingnya untuk mengikutinya kemanapun ia pergi. terkecuali sang gunung, yang dengan kokohnya tetap diam di tempat tanpa menoleh sedetik pun pada sang senja. Karena itulah senja ‘mungkin’ menjadikan sang gunung sebagai pelarian dan tempatnya untuk bersembunyi kali ini. karena ia merasa bahwa sang gunung dapat memberikannya kenyamanan dan perasaan terlindungi tanpa harus menelanjangi.
Saya tak tahu apa kelamin sang senja. Senja yang pernah saya sukai jelas2 memiliki penis dan jakun. Namun saya punya persepsi sendiri terhadap senja yang sebenarnya. Senja yang selalu saya lihat saban hari. Senja yang menemani saya dalam pergantian siang menuju malam. Senja yang saya rasa adalah perempuan, yang dapat berlenggang dengan anggunnya di depan sang awan dan menariknya untuk sepersekian detik terpaku dalam suasana menguning jingga.
Ya.
Senja yang saya kenal setiap hari adalah perempuan.
Kalau begitu tak salah jika Lelaki itu begitu mencintai senja. tak ada yang salah dengan lelaki itu. Toh ia mnyukai senja yang perempuan. Apa yang salah?
Mungkin saya yang salah karena membenci lelaki itu yang begitu mencintai senja. Ataukah mungkin karena saya merasa iri dengan senja? Sebagian diri saya tak bisa terima dan merasa dinodai karena lelaki itu lebih mencintai senja…
Mungkin ini akan jadi peperangan sesama perempuan, antara saya dan senja tentu saja…
Tapi nyatanya saya tetap tak bisa.

[karena saya ternyata juga jatuh cinta pada senja..]

sebuah memoar tentang senja…

perkenalkan, saya Bumi.

January 10, 2009

saya benci kakek matahari! apalagi jika ia terlalu berlebihan menyinari bumi. ya ampun kek!
inget atuh udah tua… g usah berlebihan lah. cucumu yg satu ini lagi suka2nya ma hujan.
jadi biarkan dia bermain dan menari hingga basah. sambil menunggu angin di serambi cakrawala.
tapi kok angin tak datang2 juga yah? padahal hujan sudah reda. kemana angin berhembus kali ini?
masih tidak ingin menghampiri saya? padahal selain hujan, saya juga menyukai angin.
karena ia begitu memesona di mata saya. eh, padahal kan angin g bisa dilihat ya?
tapi angin saya beda. karena saya juga berbeda dengan kalian yang sedang membaca arah.
oia, saya lupa bilang. perkenalkan, saya Bumi.

hepi nu year 2009, fellas!

January 4, 2009

Holla!

I’m back, fellas!

Hepi nu year for everyone!!!

Mungkin sudah agak telat jg kali yah klo saya ucapkan itu. Karena sekarang tepatnya sudah tanggal 4 Januari. Tapi baiklah. selama masih masanya tahun baru. masih hangatlah klo boleh saya bilang…

Tahun ini saya rayakan di Bromo. Niatan awal sih melihat matahari terbit di hari pertama tahun 2009. Dan akhirnya terealisasikan juga. Alhamdulillah…

Heuhehe.. sebenarnya tadinya saya mau ke Dieng. Tapi ternyata akhirnya malah ke Bromo. Tapi saya g mnyesal. Karena Bromo, saya akhirnya bisa mnjajakkan kaki saya ke kota Malang untuk pertama kalinya.

And i fell in love…

With that city called Malang!

Sumpah ya, Malang tuh kaya kloningannya Bandung. Lebih keren dari Bandung malah. Kenapa saya bilang gitu?

Lets see…

  1. Malang punya julukan Kota Bunga, yg tentunya mengingatkan saya akan julukan Bandung sebagai Kota Kembang.
  2. Malang lebih teratur dari Bandung, g serame dan semacet Bandung
  3. punya tempat yg kaya lembang juga dan tentunya lebih rapih dari lembang [nama tempatnya Batu].
  4. dan di Malang, kami menemukan tempat singgah dan bertemu dengan ibu baru, yaitu mamahnya Lia, junior saya di kampus.

yah, saya tidak bisa berharap lebih dari ini bukan?!

dan saat ini saya ingin kembali ke Malang… meski saya masih terdampar di Yogya dan belum bisa kembali ke nangor tercintah.

[oia, satu lg, saya rindu Ia yg sedang berkelana dalam kepala saya...hmmmppphh... *trsipu malu g jelas*]