Parameter Lucu? Apa itu?
March 12, 2009
Pernah dengar ada orang ngomong gini ga?
‘Eh, liat deh! Tu cewe lucu yah…’
Kata lucu yang saya garisbawahi itu maksud sebenarnya apa sih? Apakah dia memang benar-benar lucu dalam arti humoris? Ataukah memang wajahnya lucu macam Adul sehingga patut ditertawakan? Atau mungkin lucu ini merujuk pada kata cute? Manis, menarik, g bosen diliat, meski g terlalu cantik?
Saya masih belum ngerti meski saya sering ngucapin kata ‘lucu’ ini… sepertinya kata ini masih memiliki arti abu-abu dalam perbendaharaan kata saya. Karena kalau saya berprinsip tegas, maksudnya hanya ada hitam dan putih, maka hanya akan ada kata cantik/ ganteng, biasa, dan jelek dalam kamus saya. Tapi ini ada kata lucu?
Hmmm… jadi berpikir.. meskipun ini bukan hal penting dalam hidup saya.
Sinetron ga mutu
March 12, 2009
Bukannya mau menyinggung orang-orang kreatif di belakang layar yang sudah dengan susah payah membuat sebuah cerita menjadi tontonan untuk masyarakat luas. Tapi ingin menyinggung orang-orang berduit yang menyokong pembuatan sinetron-sinetron [lebay yang bahkan sudah mnjurus tidak bermutu] untuk menjadi tontonan masyarakat kita.
Dan parahnya lagi, masyarakat kita yang mau ajah dicekokin tontonan kaya gitu. Macam sinetron dubbing, nyanyi2 sambil meluk tiang a la film india, ato sinetron lebay bertema cinta-cintaan yang sekali tayang. Benar-benar sebuah pembodohan buat saya.
Atau emang bukan mau mereka nonton sinetron kaya gitu? Tapi karena hanya sinetron itulah yang bisa mereka tonton, hanya channel tv yang menayangkan tayangan itu yang bisa mereka tangkap. Kaya di beberapa daerah terpencil yang hanya dapet satu channel tv ajah. Mereka g punya banyak pilihan klo gitu…
Anehnya lagi, tontonan g mutu kaya gitu justru ratingnya paling tinggi.
Akh, ada apa dengan masyarakat kita? Ada apa dengan dunia pertelevisian Indonesia? Huh! Klo kaya gini ceritanya, kapan kita bisa maju? Kapan anak-anak Indonesia mendapatkan tontonan yang mendidik?
Apakah segalanya memang terbentur dengan dana? Sehingga para pekerja belakang layar itu manut2 ajah disuruh bikin sinetron ga mutu? Ato karena emang orang Indonesia tuh terbentur dengan ide? Mandeg dalam masalah per-ide-an? Mudah-mudahan jangan lah ya…
Exit
March 12, 2009

Aku tersesat. Tak seorang pun memberitahuku jalan yang harus kutempuh. Jalan yang harus kulalui begitu terjal dan berkelok-kelok [setidaknya dalam pikiranku]. Dan aku tertatih-tatih hanya untuk menemui jalan keluar. Tubuhku sudah penuh luka. Tapi aku tak bisa berhenti begitu saja. Aku tak ingin mati di tengah jalan. Permainan ini harus kulanjutkan hingga akhir.
[Karena Aku butuh jawaban]
Kampus ini…
March 11, 2009

Yeah! kampus ini sungguh membunuhku. Pelan-pelan tapi pasti ia mencekik leherku, merobek jantungku, dan menyayat nadiku hingga asa terbuang.
Birokrasi dan semua kebodohan yang ku buat sendiri membuatku harus siap mati. Aku? ditendang dari kampusku sendiri?
That’s my worst nightmare ever… hopefully NOT!
Parameter Aneh
March 11, 2009
Sebenernya sih saya udah sadar dari dulu klo parameter orang aneh adalah ketika ia berada dalam golongan minoritas. Macam orang gila, orang pindah agama, cewe gimbal ato botak, cewe buka jilbab, endebra endebri. Nah, si ’golongan mayoritas’ yang merasa dirinya normal ini begitu melihat golongan minoritas ini pasti akan bilang kalo mereka aneh. Ayolah ngaku ajah! Mari kita jujur, klo kita liat orang gila bertelanjang seluruh badan lagi jejingkrakan di jalan, kita merasa aneh g sih? Padahal ’mungkin’ menurut orang gila itu sendiri, dia biasa-biasa ajah. [mana ada orang gila yang ngaku gila, coba?]
Hahaha… jadi klo kamu, saya, atau siapapun itu termasuk golongan minoritas, bisa atuh disebut sebagai orang gila? [kesimpulan saya sendiri]
Padahal yah menurut saya, kebenaran itu bukanlah apa yang dipegang oleh mayoritas. Kebenaran itu buat saya ada pada zat yang hakiki [ceileehhh...]. Jadi klo ada sekelompok orang yang merasa mereka mewakili golongan mayoritas dan mengeluarkan fatwa dengan seenaknya, dan menyuruh orang2 lain untuk menjalani fatwa tersebut, buat saya itu yang gila. Duh, kok saya nyasar ke sana yak? Maap loh, tidak bermaksud mnyinggung!
Kenapa sih kita ga bisa menghargai pendapat setiap orang, entah itu mayoritas maupun minoritas. Mayoritas belum tentu selalu benar. Minoritas juga belum tentu selalu salah. Begitu pula sebaliknya. Isi kepala setiap orang kan beda-beda. Kenapa harus dipaksa seragam klo gitu?
Apakah mungkin kebenaran itu adalah hasil kesepakatan dari beberapa orang tertentu yang memiliki kuasa lebih terhadap sesuatu? Tapi saya pernah mendengar sebuah dongeng tentang seorang raja yang dianggap gila oleh rakyatnya karena tidak mau meminum air dari sumur di kotanya. Padahal raja tersebut justru merasakan keganjilan terhadap rakyatnya setelah mereka meminum air dari sumur itu. Raja merasa rakyatnya berkelakuan aneh setelah minum air tersebut. Si rakyat sendiri merasa bahwa raja merekalah yang telah gila karena berkelakuan aneh dan tidak mau meminum air dari sumur tempat mereka biasa mengambil air. Pada akhirnya si raja yang sebenarnya normal mau tidak mau meminum air tersebut atas desakan rakyatnya. Mungkin lebih tepatnya karena sang raja tak mau dianggap gila oleh rakyatnya sendiri.
Bisa ditarik kesimpulannya kan? Kesepakatan yang dibuat dengan mengatasnamakan mayoritas kemudian dianggap menjadi kebenaran oleh masyarakat kita. Pakem-pakem atau norma yang ada pun dibuat untuk membentuk manusia yang ideal dan ’normal’.
Hmmm… curiga ini semua terjadi karena salah didik sedari kecil. Pola pendidikan di negara kita yang menuntut keseragaman dan kadang tidak bisa menerima perbedaan atau pikiran yang nyeleneh dikit. [Lho?]
Hahaha… tau akh! Saya g mau perpanjang lagi. Bisa ga beres-beres klo saya lanjutin ceritanya…